Kebakaran hutan... lagi...
Akhir-akhir ini kebakaran hutan menjadi topik yang hangat di media. dari titik-titik api, dampak asapnya ke negara-negara tetangga, usaha memadamkan, hingga siapa yang harus dipersalahkan.
Evrita sebagai salah satu warga negara Indonesia sebetulnya merasa malu bahwa itu terjadi di negara kita. tapi di lain pihak merasa tidak berdaya, karena cuma bisa ngomel2, membaca dan berdoa supaya masalah jadi selesai.
Kebakaran rata-rata terjadi di kebun-kebun sawit,pulp atau di hutan yang ingin dibuka jadi lahan sawit atau hutan yang diincer(biar ijin cepat kelar). Sungguh hati ini rasanya ingin teriak sama pengusaha2 sawit2 itu. Sebegitukah harga nyawa kesehatan? harga nyawa manusia? harga alam? harga hewan2 langka? worth it kah untuk bisnis mereka?
Evrita membayangkan, mahal sekali harga yang harus dibayarkan untuk kepentingan mereka. pada saat kebakaran hutan terjadi, tentu biaya kesehatan jadi tinggi. Belum lagi pasca kebakaran, Indonesia yang terkenal akan paru-paru dunia nantinya hanya akan jadi sejarah, Harimau sumatra, orang hutan dan berbagai macam flora fauna di hutan itu nantinya hanya akan menjadi lembaran pelajaran IPA/Biologi.
Berapa banyak harga yang harus dibayarkan oleh generasiku dan generasi mendatang?
Suamiku, mas Andri pernah bilang. Kalau berurusan dengan hukum di Indonesia, sebaiknya diiklaskan saja. karena hanya akan makan hati saja. Mungkin hal itu yang menyebabkan perusahaaan2 itu melakukan pembakaran. Karena mereka gak takut dengan hukum di Indonesia. All can be bought by money. hukum, perangkatnya.... sigh...
Kapan ya mereka(orang2 itu, perusahaan2 itu, oknum2 hukum itu, oknum2 pemerintahan itu) akan sadar akan kesalahan mereka? Apa memang harus menunggu hari pembalasan(Judgement day) ya?
Yang jelas, Evrita cuma bisa nulis ngungkapin uneg2 and berdoa and yang tak kalah penting lagi.
mesti siapin diri dan generasi mendatang untuk membayar harga yang mahal tersebut.
Evrita sebagai salah satu warga negara Indonesia sebetulnya merasa malu bahwa itu terjadi di negara kita. tapi di lain pihak merasa tidak berdaya, karena cuma bisa ngomel2, membaca dan berdoa supaya masalah jadi selesai.
Kebakaran rata-rata terjadi di kebun-kebun sawit,pulp atau di hutan yang ingin dibuka jadi lahan sawit atau hutan yang diincer(biar ijin cepat kelar). Sungguh hati ini rasanya ingin teriak sama pengusaha2 sawit2 itu. Sebegitukah harga nyawa kesehatan? harga nyawa manusia? harga alam? harga hewan2 langka? worth it kah untuk bisnis mereka?
Evrita membayangkan, mahal sekali harga yang harus dibayarkan untuk kepentingan mereka. pada saat kebakaran hutan terjadi, tentu biaya kesehatan jadi tinggi. Belum lagi pasca kebakaran, Indonesia yang terkenal akan paru-paru dunia nantinya hanya akan jadi sejarah, Harimau sumatra, orang hutan dan berbagai macam flora fauna di hutan itu nantinya hanya akan menjadi lembaran pelajaran IPA/Biologi.
Berapa banyak harga yang harus dibayarkan oleh generasiku dan generasi mendatang?
Suamiku, mas Andri pernah bilang. Kalau berurusan dengan hukum di Indonesia, sebaiknya diiklaskan saja. karena hanya akan makan hati saja. Mungkin hal itu yang menyebabkan perusahaaan2 itu melakukan pembakaran. Karena mereka gak takut dengan hukum di Indonesia. All can be bought by money. hukum, perangkatnya.... sigh...
Kapan ya mereka(orang2 itu, perusahaan2 itu, oknum2 hukum itu, oknum2 pemerintahan itu) akan sadar akan kesalahan mereka? Apa memang harus menunggu hari pembalasan(Judgement day) ya?
Yang jelas, Evrita cuma bisa nulis ngungkapin uneg2 and berdoa and yang tak kalah penting lagi.
mesti siapin diri dan generasi mendatang untuk membayar harga yang mahal tersebut.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home